Sabtu, 26 November 2011

LETAK KERAJAAN TARUMANEGARA DAN KEHIDUPAN MASYARAKATNYA

BAB I
PENDAHULUAN

  1. Latar Belakang
Kepulauan Nusantara merupakan penghubung perdagangan antara India dan China. Pada awal-awal tahun Masehi pelayaran dari India ke China sangat berkembang pesat. Pelayaran itu melewati kepulauan Nusantara sebagai jalur laut perdagangan. Jalur itu kemudian di sebut sebagai jalur sutra.
Nusantara yang menjadi jalur laut dari perdagangan itu membawa pada nasuknya budaya-budaya luar terhadap Nusantara. Akulturasi itu termasuk dibidang agama yaitu masuknya agama hindu-Buddha. Pada masa-masa itu kemudian muncul Negara-negara di kepulauan Nusantara. Salah satu kerajaan itu adalah Tarumanegara. Kerajaan ini termasuk kerajaan Hindu tua di Nusantara.
Kerajaan Tarumanegara merupakan kerajaan tua ditanah Jawa yang telah memiliki hubungan sampai ke China. Hal itu terbukti dari berita China yang menyebutkan bahwa terdapat sebuah Negara yang bernama To-lo-mo di barat pulau yang dinamakan dalam bahasa sansekerta adalah Jawadwipa. Kerajaan Tarumanegara diberitakan sezaman dengan kerajaan Ho-ling atau Keling dan Kutai.
Tarumanegara sampai sekarang masih mengalami perdebatan mengenai tahun keberadaannya, daerah kekuasaannya, daerah pemerintahan dan masyarakatnya. Makalah ini disajikan untuk mata kuliah Geohistoris yang berusaha menyelidiki letak kerajaan Tarumanegara. 

  1. Rumusan masalah
1.      Bagaimanakah bukti-bukti keberadaan kerajaan Tarumanegara?
2.      Dimanakah letak kerjaan Tarumanegara?
3.      Bagaimana kehidupan masyarakat Tarumanegara?




  1. Tujuan penulisan
1.      Mendeskripsikan bukti-bukti keberadaan kerajaan Tarumanegara
2.      Mendeskripsikan tata letak kerjaan Tarumanegara
3.      Mendeskripsikan kehidupan masyarakat Tarumanegara


























BAB II
 PEMBAHASAN

  1. Keberadaan kerajaan Tarumanegara
Pulau Jawa sudah terkenal dari dahulu. Nama itu menurut beberapa ahli telah dikenal di India dengan nama Yawadwipa yang berarti pulau jelai. Dalam berita China kira-kira tahun 250 M disebutkan terdapat daerah bernama Tu-po, yang sangat dekat lafalnya dengan Cho-po, yang kemudian dalam bahasa Sansekerta Jawaka. Tetapi oelh beberapa ahli seperti G.Ferrand menyebutkan kata Cho-po disesuaikan dengan bahasa sansekerta dengan Jaya, yang kemudian dihubungkan menjadi Sriwijaya (Notosusanto, 1993:37).
Terlepas dari berita tentang keberadaan dan nama Jawa, terdapat bukti-bukti adanya sebuah kerajaan yang berada di oulau Jawa. Pada bukunya Poerbatjaraka (1976:7) ditemukan prasasti di sungai Ciaruteun dekat kota bogor. Bunyi prasasti tersebut adalah:
Vikrantasyavanipateh
Crimatah Purnavarmmanah
Taruma-nagaran drasya
Visnor wa padadvayam
Artinya:
Ini (bekas) dua kaki
Yang seperti kaki dewa Wisnu
Ialah kaki yang mulia sang Punawarman
Raja di negeri Taruma
Raja yang gagah berani di dunia
Dari prasasti itu disebutkan nama seorang raja yang bernama Purnawarman. Raja itu memimpin suatu kerajaan yang bernama Taruma. Nama Taruma sendiri kemudian di selaraskan dengan nama sungai Citarum yang menhubungkan antara Kerawang-Bogor-Jakarta.
Bukti lain adanya kerajaan yang disebut dengan trauma adalah prasasti pasir koleangkak, yang ditemukan di daerah yang dinamakan demikian. Daerah ini termasuk kebun jambu 30 km sebelah barat Bogor. Bunyi prasasti tersebut yang ditranskrip oleh J.Ph.Vogel dalam Notosusanto (1993:40) adalah
Sriman-data krtajno narapatir-asamo yah pura/ta/r/u/maya/m/ namna sri-purnavarman pracura-ripusarabhedyavikhyatavarmmo.
Tasyedam-padavimbadvayam-arinagarotsadane nityadaksambhakatanam yandripanam-bhavati sukharam salyabhutam ripunam.
Artinya:
Gagah, mengagumkan dan jujur terhadap tugasnya adalah pemimpin manusia yang tiada taranya-yang termasyhur sri purnnnavarmman- yang sekali waktu (memerintah) di Taruma dan yang baju zirahnya terkenal (=vamman) tidak dapat ditembus senjata musuhini tapak kakinya yang senantiasa menggempur kota-kota musuh, hormat kepada para pangeran, tapi merupakan duri dalam daging bagi musuh-musuhnya.
Dalam prasasti itu juga ditegaskan bahwa raja punawarman seorang raja yang memimpin Negara dengan nama Taruma. Terdapat tujuh prasasti yang menerangkan keberadaan kerajaan Taruma yaitu, lima ditemukan di daerah Bogor dan dua di Jakarta. Ketujuh prasasti itu adalah prassati ciaruteun, prasasti kebun kopi, prasasti jambu, prasasti pasir awi, dan prasasti muara cianten, prasasti tugu dan prasasti lebak .
Tujuh prasasti yang menjelaskan kerajaan trauma di temukan, tetapi tidak menunjukkan angka tahun. Maka untuk melihat angka tahun pada kerajaan ini dibantu oleh temuan-temuan lain yang terkait dengan Taruma. Temuan itu antara lain arca-arca dan laporan-laporan perjalanan orang China.
Ditemukannya arca Wisnu cibuaya I dan II yang diperkirakan berasal dari abad VII M-VIII M. arca ini mempunyai aliran seni di Jawa barat. Diperkirakan arca itu terbuat dari abad VII-VIII M karena terdapat seni pala sebagai berikut:
1.      jenis batu yang dipergunakan.
2.      bentuk arca beserta laksananya.
3.      bentuk badan
4.      makuta.
Selain itu sumber lain juga diperoleh dari berita China yang menyatakan pada sekitar abad VII terdapat Negara yang bernama To-lo-mo yang kemudian dianggap sebagai Taruma. Pada catatan dinasti T’ang muda mengatakan, pada tahun 666 dan 669 di katakana keberadaan kerajaan To-lo-mo. 

  1. Letak kerajaan Tarumanegara
Sebelum mengetahui letak kraton kerajaan Tarumanegara, dari temuan tempat prasasti itu dapat diperkirakan luas kerajaan Tarumanegara. Prasasti Ciaruon atau prasasti Ciareteun, ditemukan di daerah Cimpea, Bogor. Kemudian prasasti kebun kopi yang ditemukan di daerah kampong hilir kecamatan cibung-bulang. Kemudian prasasti kebun jambu, ditemukan di daerah bukit koleangkak 30 km sebelah barat bogor. Kemudian prasasti tugu ditemukan di daerah Tugu, clincing, Jakarta Utara.
Dari temuan letak prasasti tersebut dapat diketahui daerah yang masuk dalam wilayah kerajaan Tarumanegara. Wilayah kerajaan Tarumanegara meliputi pesisir Jakarta hingga pedalaman di kaki gunung Gede (lihat gambar 1.). Selain itu dari prasasti dapat diketahui fungsi dari suatu daerah. Pada prasasti Tugu yang dikatakan bahwa pembuatan prasasti itu untuk para brahmana yang telah membuat terusan pada kali candrabhaga yaitu kali Gomati. Sehingga dapat dikatakan bahwa wilayah dtemukannya prasasti Tugu merupakan daerah para Brahmana. Para Brahmana kerajaan Tarumanegara tinggal di daerah pesisir pantai. Dapat dikatakan mereka datang ke Nusantara dengan para pedagang India.
Dapat di duga pula pada prasasti kebun jambu yang ditemukan di dekat sungai Cisadane, di bukit Koleangkak, Banten selatan. Dalam prasasti itu dapat ditafsirka sebagai prasasti penaklukan suatu wilayah. Dalam prasasti itu dikatakan bahwa raja Purnawarman merupakan raja yang disegani oleh musuh-musuhnya. Senantiasa menggempur kota-kota musuhnya. (Notosusanto,1993:39)

Gambar 1. letak ditemukannya prasasti Tarumanegara (sumber:www.wikipedia.com)

Prasasti-prasasti yang ditemukan di daerah Jawa Barat dapat dikaji mengenai tata letak kerajaan Tarumanegara. Prasasti Tugu yang terjemahkan oleh Poerbatjaraka (1976:9) ditemukan di desa Tugu dekat tanjung priok, prasasti ini berbahasa sansekerta:
1.      Pura raja dirajena guruna pinabahuna khata khiyatam purim prapya candra baha garnnavam yayau
2.      Pravarddhamana-dvavincad-vatsare cri-gunaujasa
3.      Narendradva jabhutena crimata purnnavarmana
4.      Caitracukla-trayedcyam dinais siddhai-kavincakaih
5.      Ayata satsahasrena dhanusam sanatena ca
6.      Pitamahasya rajarser vvidarya cibiravanim brahmananggo-sahasrena prayati krta-daksina
Artinya:
“Dulu (kali yang bernama) candrabhagga telah digali oleh maharaja yang mulia dan mempunyai lengan kencang dan kuat (yakni raja Purnawarman) buat mengalirkannya kelaut, setelah kali ini sampai di istana yang termasyhur.
Didalam tahun kedua puluh duanya dari tahta yang mulia raja Purnawarman yang berkilau-kiluan karena kepandaian dan kebijak sanaannya serta menjadi panji-panji segala raja-raja, (maka sekarang) beliau menitahkan pula menggali kali yang permai dan berair jernih, Gomati namanya, setelah sungai itu mengalir di tengah-tengah tanah yang mulia sang pendeta nenek-da (sang Purnawarman). Pekerjaan ini dimulai pada hari yang baik, tanggal 23 hari saja, sedang galian itu panjangnya 6122 tombak Brahmana disertai 1000 ekor sapi yang dihadirkan.”
Dari prasasti diatas dapat dilihat letak kerajaan Tarumanegara. Menurut Porbatjaraka (1976:11)  terdapat kata Candrabhaga pada prasasti Tugu yang merupakan sebuah sungai di India. Sungai itu jika diartikan namanya dalam bahasa jawa Candrabhaga memiliki dua kata, Candra berarti bulan dan Bhaga berarti bahagia. Candra dalam bahasa sansekerta berarti bulan jika di artikan dalam bahasa Jawa adalah sasi.
Dalam bahasa Jawa memiliki kebiasaan membalikkan kata, seperti raja-putra menjadi anak-raja, Leerboek menjadi buku pelajaran. Maka candrabhaga jika diartikan candra sebagai sasi dan dibalik menjadi Bhagasasi. Kemudian berkembang menjadi bagasasi dan selanjutnya menjadi bagasi. Bagasi jika dicari pada daerah Jawa barat terdapat nama Bekasi. Jika benar hal itu maka letak kerajaan tarumanegara adalah di aliran sungai Bekasi (Poerbatjaraka, 1976:8).
Dalam prasasti Tugu juga disebutkan bahwa raja purnawarman memerintahkan penggalian sebuah sungai dengan menghadiahkan 1000 ekor sapi, sungai itu bernama Gomati. Sungai ini merupakan galian dari sungai Candrabhaga yang dialirkan melewati kerajaan untuk pengairan sawah, kebutuhan air dan mengatasi banjir. Tetapi dimana letak sungai Gomati belum diketahui oleh para peneliti sekarang ini.
Letak kerajaan tarumanegara sendiri sampai sekarang masih merupakan tanda Tanya. Ada dua pendapat mengenai letak kerajaan Tarumanegara, Poerbatjaraka dalam bukunya Riwayat Indonesia (1976:11) mengatakan CandraBhaga adalah sungai Bekasi, ada juga yang mengatakan letak kerajaan Tarumanegara di hubungkan dengan nama sungai citarum.
Slamet mulyono dalam bukunya Sriwijaya, kuntala, Swarnabhumi (1981:35) dikatakan bahwa kerajaan Tarumanegara yang bernama Tolomo dalam berita Cina terletak di sungai Bekasi. Dalam berita perjalanan I’Tsing mengatakan bahwa dahulu garis pantai Bekasi lebih menjorok kedalam dari pada yang sekarang. Hal tersebut dibuktikan sampai sekarang terdapat desa yang bernama Teluk Buyung, di sebelah utara pusat kota Bekasi. Garis pantai yang sekarang merupakan pelebaran terkait dengan endapan Lumpur.
 
Gambar 2. sungai-sungai besar di tanah pasundan. Sungai Bekasi melewati kota Bekasi.
Penggambaran pada garis pantai mungkin saja tepat. Karena dalam peta Nusantara kuno pulau Jawa ada dua bagian yaitu Jawa mayor dan Jawa minor setelah terpisah dengan pulau Sumatra. Pada zaman Demak, Kudus menjadi kepulauan tersendiri terpisah oleh selat.
Letak kerajaan Tarumanegara terletak tidak terlalu ke daerah pedalaman. hal tersebut dapat dilihat dari berita Cina, bahwa masyarakat kerajaan tarumanegara menjual barang laut. Menurut pedagang Cina mereka menjual kulit penyu sebagai barang dagangan hasil laut. Selain itu adanya pembuatan sungai Gomati yang ditafsirkan sebagai penanggulangan banjir. Berarti dapat dikatakan bahwa kerajaan Tarumanegara berada di dataran rendah.
 
 Gamabar 3. kepulauan Nusantara . (sumber early maping sout-east Asia)

  1. Keadaan masyarakat Tarumanegara
Menurut Poerbajtaraka pembangunan terusan sungai Gomati merupakan fasilitas yang dipergunakan untuk pengairan. Penanggulangan banjir sudah terpikirkan pada saat itu. Pembuatan kanal-kanal yang melewati keraton merupakan antisipasi banjir.
Selain itu masyarakat Taruma Negara juga merupakan pedagang. Pembuatan sungai yang didalam prasasti Tugu dikatakan bahwa pembuatan sungai Candrabhaga yang mengalir melewati kerajaan. Dapat dikatakan bahwa sungai itu juga di gunakan sebagai perdagangan. Dari berita China juga dapat memperkuat bahwa masyarakat tarumanegara melakukan perdagangan. Masyarakat Tarumanegara menjual gading gajah, kulit penyu, dan beras kepada para pedagang China (Notosusanto, 1993:42).
Gambar 4. sungai sebagai jalur perdagangan. (sumber early maping sout-east Asia)

Penjualan kulit penyu menandakan bahwa masyarakat Tarumnegara merupakan nelayan. Pemanfaatan hasil laut untuk ditangkap kemudian diperdagangkan. Selain itu letak kerajaan yang berada di lereng gunung Gede, gunung salak, gunung pangrango menyuburkan tanah sekitar kerajaan Tarumeanegara. Penggunaan sungai Gomati sebagai pengairan kepada pertanian rakyat kerajaan Tarumanegara.  
Secara geografis kerajaan ini terletak di lereng gunung salak, Gede, Pangrango yang mempunyai rata-rata ketinggian diatas 200mdpl. Hal tersebut menyebabkan tanah yang dipakai subur. Selain itu letak Negara ini berada di tiga jalur sungai yang berhulu di tiga pegunungan. Sungai tersebut membawa endapan-endapan Lumpur yang kemudian mengendap di sekitar teluk Jakarta.
Endapan-endapan Lumpur tersebut menjadikan model tanah basah bagi kerajaan Tarumanegara. Tetapi dalam kenyataannya rakyat Tarumanegara kurang bisa memanfaatkan tanah tersebut. Hal itu disebabkan oleh keadaannya yang memang kurang subur jika tidak di kenai oleh pupuk (Daljoeni, 1984:20).
Daerah ini mengalami hujan yang lebat mengakibatkan berkurangnya kandungan hara pada tanah. Sehingga tanah di daerah teluk Jakarta kurang subur. Dataran rendah Jakarta dengan kaki gunung Salak mengalami curah hujan yang berbeda. Jakarta mengalami 1793mm dan Bogor 4230mm dalam setahun. Perbedaan curah hujan tersebut membawa berkah bagi daerah perbatasan iklim yaitu daerah karawang yang menjadikan tanahnya subur. Maka untuk wilayah Tarumanegara yang subur tanahnya daerah Karawang sekrang. 
  
  1. Hilangnya peradaban Tarumanegara
Mengenai runtuhnya kerajaan Tarumanegara tidak ditemukan secara jelas penyebabnya. Menurut Slamet mulyana dalam bukunya Daljoeni (1984:30) kerajaan Tarumanegara runtuh akibat dari serangan kerajaan Sriwijaya. Kerajaan Sriwijaya berkuasa di Jawa barat samapai tahun 996 masehi.
Adapun menurut Fruin-Mees kerajaan Tarumanegar runtuhnya tidak diketahui. Karena kemudian terdapat fakta bahwa pada tahun 1030 M muncul kerajaan Sunda yang dipimpin oleh Sri Jayabhupati. Kerajaan Sunda ini memiliki pelabuhan yang baik menurut berita China. Nama kerajaan Sunda terdapat dalam Negarakertagama. Akan tetapi dalam prasasti yang berangka tahun 1194 terdapat kerajaan Galuh yang beribu kota di tenggara kota Chirebon.
Dalam penaklukannya Sriwijaya melakukan politik ekspansi demi menjaga monopoli perdagangan. Sriwijaya memperkuat perniagaan mereka sehingga harus mengusai semenanjung malaka, pantai pesisir Melayu dan Bhumi Jawa. Bukti ekspansi ke Bhumi Jawa yang pada saat itu terdapat kerajaan Tarumanegara, yaitu dari kabar China yang tidak menyebutkan lagi adanya utusan lagi dari kerajaan To-lo-mo tahun 669.









DAFTAR ISI

Daldjoeni. 1984. Geografi kesejarahan II Indonesia.Bandung: Alumni

Notosusanto, Nugroho dan Marwati. 1993. Sejarah Nasional Indonesia jilid II. Jakarta: balai pustaka.

Mulyana, Slamet. 1981. Kuntala, Sriwijaya, Shuwarnabhumi. Jakarta: yayasan ida ayu.

Poerbatjaraka. 1976. Riwayat Indonesia.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar